2014/02/27

tentang Pulang



Hei, Pulang! Kamu bagai cinta lama saya yang hilang. Saya mencari-cari maknamu wahai Pulang! Melewati kebingungan, menapaki keraguan dan ternyata butuh seperempat abad bagi saya untuk tahu apa itu Pulang.

Pulang disaat saya duduk di bangku sekolah dasar berarti bebas dari seragam lalu bebas bermain dengan teman-teman. Ketika itu saya sangat amat menghargaimu, wahai Pulang karena kamu adalah hadiah dari Ibu Guru. "Boleh pulang duluan" begitu kata Ibu Guru jika murid-muridnya bisa menjawab pertanyaan.

Menginjak remaja, Pulang menjadi titah utama dari yang saya muliakan, kedua orang tua tersayang. Apalagi yang lebih dikhawatirkan oleh mereka selain anak gadisnya yang baru menginjak remaja terlambat pulang. Maaf Pulang, di masa-masa itu kamu jadi kewajiban yang membosankan.

Lalu Pulang membuat perubahan. Pulang keluar dari orbit seorang gadis remaja yang rumahnya mendadak pindah ke propinsi tetangga. Saya pun menarik Pulang untuk kembali ke tempat yang baru. Memaksa Pulang agar menetap dengan saya yang menumpang di rumah kerabat terdekat di Ibukota. Saya kasihan dengan Pulang yang kebingungan dengan rutinitas multitujuan. Saya tahu bahwa Pulang kelelahan dengan perjalanan antarkota antarpropinsi setiap akhir minggu. Dua tahun pertama berlalu, Pulang belajar dan menjadi dewasa. Saya pun bersyukur, Pulang kini lebih kaya arti. 

Euphoria menjadi mahasiswa ternyata menjauhkan saya dari Pulang. Ini bukan karena stigma bahwa mahasiswa KuPu-KuPu (Kuliah Pulang Kuliah Pulang) adalah mahasiswa yang cupu* (kurang pergaulan) sehingga saya tidak mau tergabung ke dalamnya. Kepanitiaan-ini, organisasi-itu berhasil membuat saya lupa waktu dan juga lupa dengan Pulang. Saya larut dalam kesibukan baru dan keluarga pun mendukung, Kamu harus cepat pulang jangan terlambat sampai di rumah" seperti yang dinyanyikan Slank, hampir tidak pernah dinyanyikan oleh keluarga saya pada masa-masa ini.

Tahun ketiga menjadi seorang mahasiswa saya mencoba untuk masuk ke dalam kelompok mahasiswa yang go international. Walaupun misi saya sama seperti Agnes Monica tapi skill jelas beda. Saya sadar sepenuhnya jika saya mengandalkan faktor keberuntungan diantara sederet faktor lainnya. Beruntung, keberuntungan itu menghampiri saya dalam bentuk kesempatan untuk mengikuti Asian Energy Summit di National University of Singapore. 

Sebagai pemodal tunggal dalam usaha nekad ini, tentu pada awalnya saya sempat mengalami kebimbangan. "Bisa pergi tapi nanti bisa pulang gak ya?" versus "Belum pergi aja kok udah mikirin pulang sih" sering berdebat di dalam pikiran saya. Saya bersyukur perjalanan saya ke Singapore bisa dikatakan mulus dan justru menjadi stimulus. Berikutnya saya semakin sering menantang diri saya untuk memulai travel ke banyak tempat dan tentu kemenangan selalu ada di pihak "Belum pergi aja kok udah mikirin pulang sih". Ya, hubungan saya dengan Pulang semakin menjauh. Ketika itu, saya mulai hobi travel ling. Saya jarang rindu Pulang.

Kalian pasti tahu kan tentang fase pasang surut yang dialami oleh air laut, begitu juga yang terjadi dalam hubungan saya dengan Pulang. Saya masih menganggap Pulang hanyalah sebagai sebuah formalitas bahkan sampai saya mendapat gelar akademik pertama saya. Kebiasaan jarang "mikirin Pulang" kemudian menjadi sponsor pendukung dalam salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya. Tahun 2012, saya mengambil pilihan untuk hidup mandiri di pulau seberang. Atas nama penempatan oleh perusahaan, jiwa petualang ini tersalurkan. Namun ternyata ada hal yang kurang saya persiapkan. Saya tahu saya akan berpisah dengan Pulang dalam waktu yang panjang tapi saya belum pernah tahu bagaimana rasanya. Perjalanan-perjalanan saya selama ini hanya membuat Pulang menunggu dalam hitungan minggu maka Pulang sangat saya rindukan di beberapa bulan pertama saya memulai hidup di kota Palu, Sulawesi Tengah. Kala itu, Pulang kembali menjadi pujaan, Pulang terkena gelombang pasang. Saya sangat menginginkan Pulang.

Seperti seorang pecinta yang ingin dianggap istimewa oleh yang dicintainya, saya pun ingin membawa hal yang spesial ketika nanti bertemu Pulang. Saya ingin menyiapkan setumpuk cerita tentang keindahan Sulawesi Tengah serta segudang pengalaman berkesan tentang pekerjaan tak lupa juga perkembangan diri secara materi dan non-materi. Tentunya semua harus sempurna. Dalam rangka mengejar kesempurnaan, saya sampai merelakan momen hari raya untuk belum bertemu Pulang. Pengorbanan ini pun diganjar dengan sebuah gelar baru yang diberikan oleh beberapa teman. Saya resmi menyandang gelar Mbak Toyib walau baru satu kali bulan puasa dan satu kali Lebaran.

Waktu berlalu, saya pun sampai pada fase kebingungan dan justru menjauhi Pulang. Makassar, ya, itulah yang telah merebut hati saya. Ini bukan karena hampir setiap bulan saya bertandang ke Makassar untuk urusan pekerjaan, bukan pula karena domisili seseorang yang berstatus pacar tetapi ada sesuatu yang membuat saya terlena dengan Makassar. Sesuatu yang lebih abstrak dari pantai Losari, Benteng Fort Rotterdam, Warung Kopi, Coto, ataupun Konro Bakar. Ah entah apa itu, yang jelas saat itu arti Pulang jadi berlipat ganda.

Sejenak saya melupakan dulu Pulang karena berbagai pertemuan dan perjalanan saya yang begitu mengasyikkan. Pertemuan saya dengan teman-teman bawah laut yang begitu cantik di Pantai Tanjung Karang yang berhasil menarik saya untuk ikut aksi transplantasi karang serta mengadopsi karang. Pertemuan saya dengan penduduk Kampung Bajo di Kepulauan Togean yang mengajarkan arti kebahagiaan dalam kesederhanaan. Pertemuan saya dengan masyarakat berbeda agama yang hidup rukun di daerah bekas konflik di Poso. Beberapa perjalanan saya di Sulawesi Tengah memang sangat mengasyikkan tetapi banyak juga yang menegangkan dan mengingatkan saya tentang Pulang. Seperti perjalanan tengah malam saya di daerah Parigi dimana saya yang ketika itu tidur di bangku tengah terbangun kaget dengan badan yang penuh serpihan kecil kaca karena kaca depan mobil yang saya tumpangi dilempar batu hingga retak. Kemudian, perjalanan saya yang harus tertunda karena ban mobil rental yang kempes di tengah hutan menuju kota Ampana pada pukul 03.00 pagi. Mungkin berhenti sebentar karena ada razia oleh Polisi terdengar biasa saja tapi kalau kejadiannya di kota Poso pada jam 23.00 maka akan beda sensasinya. Sekedar lewat kota Poso untuk menuju kota lain pun pernah dihiasi oleh berita bom berdaya ledak kecil yang meledak di suatu kampung. Semuanya membuatku berpikir tentang Pulang.

Di tengah kebingungan akan Pulang, saya bertemu dengan sekelompok orang yang sangat mendambakan Pulang. Kami dipersatukan oleh kebijakan penempatan perusahaan. Kami sama-sama bertahan, belajar dan menikmati masa perantauan. Dari mereka, saya belajar arti Pulang yakni kembali ke pulau kelahiran dimana kultur mereka mudah berbaur. Mayoritas dari mereka berpikir bahwa untuk bertemu sanak keluarga, perjalanan 15 jam di atas kereta itu lebih baik daripada 2 jam penerbangan dari pulau seberang. Bagi mereka lebih berat membawa satu kultur mereka ke pulau seberang daripada menerima dan berbaur dengan ratusan macam kultur di pulau kelahiran.

Kemudian magnet itu datang. Magnet yang mencoba menarik saya pulang, yang berbentuk: Berita tentang kesuksesan teman-teman yang berjuang di kota besar, Iming-iming banjir peluang di ibukota, Fakta tentang ketertinggalan saya akan hal-hal terkini dan yang paling kuat daya tariknya yaitu kekhawatiran orang tua. Dalam waktu yang singkat saya memutuskan untuk segera mengejar Pulang.

Akhirnya, saya bertemu Pulang.. Sambutan hangat berdatangan dari keluarga dan teman-teman ketika nama saya disandingkan dengan Pulang. Saya butuh Pulang agar saya tenang adalah jawaban atas pertanyaan Kenapa ingin Pulang? yang saya ulangi berkali-kali. Berkali-kali kepada mereka yang peduli. Berkali-kali sambil saya renungi. Berkali-kali hingga saya tersadar bahwa Pulang punya arti tersendiri.

Dua bulan pertama masih terasa wajar jika saya rindu perantauan serta rindu Makassar. Dua bulan berikutnya saya menangis tersedu-sedu, juga masih karena rindu. Ini kali pertama saya mengalami hal yang lebih dahsyat dari rindu. Raga saya nyaman berada dalam dekapan hangat rumah tapi pikiran saya melayang-layang ke pulau seberang. Lalu, saya bertanya berkali-kali kepada diri sendiri: "Bukankah ini Pulang yang saya nanti-nantikan?" Jika ini sudah Pulang, lalu kenapa saya belum tenang?

Saya memang belum tenang karena seperti ada yang hilang dan rasanya seperti belum Pulang. Pulang ternyata telah mencapai makna yang dalam dan setelah sekian lama barulah saya paham. Makna Pulang bukan hanya tentang perpindahan tempat, bukan cuma kembali ke tempat kelahiran, lebih dari sekedar bertemu dengan orang-orang yang kita sayang. Pulang adalah tentang kembali ke tempat dimana hati kita terasa nyaman, jiwa dan pikiran kita tenang. Saya telah meninggalkan hati saya di beberapa tempat dan kesana lah saya ingin pulang, ke tempat-tempat yang menghidupkan kenangan, yang membuat hati ini nyaman, jiwa dan pikiran pun tenang.