2014/04/07

Kekuatan Perempuan dalam Parlemen

Dalam hitungan hari, masyarakat Indonesia akan berpesta demokrasi. Pesta demokrasi yang diharapkan bukan hanya sekedar repetisi lima tahunan tapi membawa perubahan signifikan. Rangkaian perhelatan politik ini diawali dengan Pemilihan Legislatif pada tanggal 9 April 2014.


Langkah perubahan bagi bangsa Indonesia ditentukan oleh suara rakyat dalam memilih para wakilnya di parlemen. Meminjam istillah Vox Populi Vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan) maka idealnya para caleg terpilih akan membawa Indonesia selangkah ke depan, Akan tetapi, jika hak suara rakyat diberikan bukan berdasarkan pilihan rasional maka bisa jadi Indonesia tetap terjebak dalam ketertinggalan. Untuk itu, sepatutnya setiap dari kita memiilih wakil rakyat yang mumpuni untuk mewakili.


Jumlah kursi yang tersedia di DPR RI yakni sebanyak  563 kursi. Jumlah tersebut untuk mewakili jumlah rakyat Indonesia saat ini yang sudah mencapai 237.641.326 jiwa dengan komposisi jumlah laki-laki 119.630.913 jiwa dan perempuan jumlah 118.010.413 jiwa. Sementara jumlah Calon Legislatif (caleg) yang berjuang untuk pemilihan legislatif (pileg) periode 2014-2019 ini sejumlah 4142 caleg laki-laki dan 2434 caleg perempuan.

Tingginya jumlah perempuan di Indonesia belum berbanding lurus dengan jumlah caleg perempuan yang mewakilinya di parlemen. Ini ditunjukkan dengan data jumlah anggota legislatif (aleg) perempuan di DPR RI periode 1999-2004 yakni sebanyak 9,2% ; Periode 2004-2009 yakni sebanyak 11,8 % ; Periode 2009-2014 yakni sebanyak 19,2%. Padahal seharusnya jumlah aleg perempuan yang duduk di parlemen mencapai angka 30% sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang. Terdapat beberapa kebijakan yang mengatur tentang keterwakilan serta partisipasi perempuan dalam parlemen, yaitu: UU No.32 tahun 2007, UU No. 10 tahun 2008, UU No.2 tahun 2011, UU No.15 tahun 2011 dan yang terbaru yaitu PKPU No.7 tahun 2013.

Fakta menunjukkan bahwa kuantitas aleg perempuan yang duduk di parlemen belum maksimal. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas demokrasi di negeri ini padahal perempuan jelas mendapat jaminan hak untuk duduk di parlemen. Kesenjangan antara jumlah aleg perempuan yang tercantum dalam kebijakan dengan kenyataan bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya caleg perempuan yang direkrut oleh partai politik. Nyatanya, saat ini ada 2434 caleg perempuan yang bertanding untuk Pileg 2014. Tidak bisa dipungkiri bahwa stigma tentang perempuan adalah makhluk yang lemah masih melekat di kepala masyarakat. Budaya patriarki yang sejak dulu berkembang di Indonesia pun juga mempengaruhi. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk mengubah pandangan tentang kaum perempuan mengingat dewasa ini kekuatan perempuan dalam berpolitik layak diperhitungkan. 

Pada Pileg 2014 ini, jumlah aleg perempuan yang duduk di parlemen patut mencapai jumlah yang proporsional karena sejatinya perempuan memiliki peran strategis dalam mewakili rakyat terutama kaumnya di parlemen, selain juga karena kuotanya telah diatur dalam kebijakan. Tentunya kuantitas juga harus dibarengi dengan kualitas sehingga para aleg perempuan turut andil dalam memajukan bangsa lewat kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Peran nyata perempuan dalam mewakili kaumnya di parlemen setidaknya telah dibuktikan dengan kebijakan pro perempuan yang dihasilkan selama periode 2009-2014,  antara lain Undang-Undang tentang Perkawinan dan UU mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Semakin banyak jumlah aleg perempuan yang berkompeten duduk di parlemen maka semakin terbuka peluang mereka untuk menjalankan perannya secara optimal, baik dalam menyelesaikan masalah yang mendiskreditkan perempuan maupun masalah bangsa lainnya.

Masalah Bangsa dan Peran Anggota Legislatif perempuan
Indonesia masih memiliki daftar panjang untuk permasalahan bangsa, termasuk permasalahan perempuan dan anak. Hak-hak perempuan di negeri ini sudah sepantasnya terpenuhi sebab perempuan mempunyai peran strategis dalam pembangunan bangsa. Perempuan yang melahirkan, menjadi ibu sekaligus pendidik bagi generasi penerus. Betapa besar peran kaum hawa dalam menentukan masa depan bangsa.

Salah satu masalah dimana perempuan menjadi objek penderitaan yakni permasalahan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Permasalahan TKI yang mayoritas adalah perempuan seakan tak kunjung menemukan solusi. Mata rantai permasalahan ini dimulai dari banyaknya perempuan yang menjadi TKI karena desakan faktor ekonomi. Kurangnya lapangan kerja di negeri sendiri menyebabkan para perempuan ini harus terpisah jauh dari keluarga. Masalah semakin pelik dengan sering terjadinya kasus pemerkosaan, penganiayaan, bahkan pembunuhan terhadap TKI perempuan. Ironisnya, masih banyak TKI perempuan yang ilegal sehingga tidak bisa mendapat perlindungan. Kasus TKI yang sedang menjadi perbincangan ialah kasus Satinah, seorang TKI yang terancam hukuman pancung di Arab Saudi atas tuduhan pembunuhan dan pencurian. Satinah menjalani proses pengadilan sejak tahun 2007 dan pada tahun 2014 akhirnya Satinah bebas setelah syarat pembayaran ganti rugi terpenuhi. Tentunya, suara hati dan aspirasi para TKI akan lebih mudah dipahami oleh sesama perempuan.

Bahkan di negeri sendiri pun masih banyak terjadi kasus human trafficking dan kebanyakan korbannya ialah perempuan di bawah umur. Para korban human trafficking ini sering dipekerjakan sebagai wanita tuna susila. Adapula yang dieksploitasi menjadi buruh pabrik maupun pekerja rumah tangga. Masih lekat di ingatan kita kasus pekerja perempuan yang disekap selama 3 tahun di sebuah pabrik sarang burung walet di Medan. Beberapa dari mereka bahkan masih di bawah umur dan harus bekerja tanpa mengenal waktu juga tanpa mendapat pemenuhan hak. Kasus lain yakni penyiksaan terhadap sejumlah perempuan yang menjadi pekerja rumah tangga di daerah Bogor. Human Trafficking dengan korban anak-anak pun marak terjadi. Balita dan anak-anak di bawah umur diperjualbelikan untuk dieksploitasi sebagai pengemis atau pengamen jalanan. Dalam hal ini lagi-lagi perempuan yang mayoritas menjadi korban. 

Salah satu kodrat perempuan ialah melahirkan maka kualitas generasi penerus bangsa ditentukan oleh perempuan. Sewajarnya hak-hak kesehatan perempuan terpenuhi namun angka kematian Ibu di Indonesia cenderung semakin tinggi. Banyak perempuan yang belum mengerti tentang kesehatan reproduksi. Berdasarkan SDKI 2012, rata-rata angka kematian ibu (AKI) tercatat mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Rata-rata kematian ini jauh melonjak dibanding hasil SDKI 2007 yang mencapai 228 per 100 ribu. Masalah ini tentu harus segera ditangani dan tentunya aleg perempuan akan lebih mengerti dibandingkan dengan aleg laki-laki.

Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-4 di dunia dalam hal jumlah penduduk. Sayangnya kuantitas belum berbanding lurus dengan kualitas. Masih banyak keluarga di Indonesia yang menerapkan "banyak anak banyak rejeki" hingga banyak anak yang justru kurang pendidikan bahkan terlantar. Disini, perempuan memiliki andil yang sangat penting untuk mengerem laju angka kelahiran. Program Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh pemerintah sejak lama ternyata belum menyentuh seluruh golongan. Pentingnya pendekatan dan edukasi bagi para perempuan untuk merencanakan jumlah anak dan akan lebih efektif bila dilakukan oleh sesama perempuan.
            
Bila menyimak berita tindakan kriminal sejak awal tahun ini, fakta menunjukkan bahwa data kejahatan terhadap perempuan cukup tinggi. Seperti yang diberitakan Redaksi Trans 7 bahwa setidaknya pada bulan Januari-Maret 2014 ada 17 kasus pembunuhan terhadap wanita di sekitar Jakarta. Belum lagi kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap perempuan yang seakan tiada henti dan mengancam perempuan dimanapun. Misalnya kasus pelecehan seksual yang dialami seorang perempuan penumpang Bus TransJakarta. Sangat miris ketika mengetahui pelakunya ialah justru pegawai TransJakarta sendiri dan pelecehan tersebut dilakukan ketika korban tersebut pingsan dan sedang membutuhkan pertolongan. Kasus kekerasan terhadap anak pun tengah menjadi sorotan masyarakat ketika Iqbal, seorang balita di Jakarta yang harus menderita luka berat di sekujur badannya karena dianiaya oleh teman Ibunya. Eksploitasi sebagai pengemis serta penganiayaan berat yang diterima Iqbal mengharuskan Iqbal dirawat secara intensif di rumah sakit, di samping juga menderita trauma. Kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak sudah pasti menjadi perhatian penting para aleg perempuan, Dengan kuantitas keterwakilan perempuan yang meningkat di parlemen diharapkan perlindungan untuk perempuan dapat dirasakan secara nyata.


Kekerasan terhadap perempuan pun kerap terjadi dalam rumah tangga. Budaya patriarki seolah masih melegalkan perempuan untuk  pasrah menerima kekerasan. Kekerasan yang dimaksud disini termasuk juga kekerasan verbal. Padahal, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) telah diatur dalam UU KDRT namun masih banyak korban perempuan yang takut untuk melapor. Dalam masalah ini, diperlukan sinergi antara aleg perempuan, pemerintah serta masyarakat sendiri untuk melakukan sosialisasi serta memberikan edukasi.

Perempuan sebagai Ibu juga erat kaitannya dengan perilaku remaja. Perilaku remaja sekarang ini banyak yang menjurus ke arah negatif dan cenderung melakukan kenakalan remaja. Masyarakat sempat dibuat kaget dengan pembunuhan Ade Sara, seorang remaja perempuan yang dilakukan oleh kedua orang temannya yang juga masih remaja. Bagaimana mungkin seorang remaja sudah terpikir untuk membunuh? Nyatanya terjadi lagi kasus penganiayaan terhadap seorang remaja perempuan di Jakarta yang kemudian dibunuh oleh teman-temannya dengan menggunakan gir motor. Tentu kita tidak mau generasi penerus bangsa yang brutal, maka diperlukan peran nyata aleg perempuan dalam mengatasi  degradasi moral bangsa. 

Dalam hal kesetaraan dan keadilan gender belum mampu diwujudkan sepenuhnya. Kaum perempuan di negeri ini masih dihantui oleh diskriminasi, baik dalam hal pendidikan, pekerjaan termasuk juga politik. Payung hukum tentang gender yakni Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender belum kunjung rampung.  Pencapaian Kesetaraan dan keadilan gender yang belum maksimal juga dapat dilihat dari nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Indonesia yang selalu lebih rendah dari Indeks Pembangunan Manusia dari tahun 2004-2012. Idealnya, perempuan dan laki-laki setara dalam hal akses, partisipasi, kontrol dalam pembangunan. Harapan tentang kesetaran dan keadilan gender di Indonesia berada di tangan para aleg perempuan.

Sederet masalah perempuan dan anak menjadi tugas bagi para anggota legislatif baik laki-laki maupun perempuan. Namun, aleg perempuan tentu akan lebih memahami permasalahan yang dihadapi oleh kaumnya dan jika ditambah dengan memaksimalkan ketiga fungsi yang dimiliki maka setiap permasalahan akan menemukan titik terang. Sebagai legislator, aleg perempuan tentu mengedepankan kebijakan yang pro perempuan dan anak. Dalam memformulasi kebijakan, aleg perempuan tentu akan berdasarkan pemahaman mendalam tentang realita di lapangan, serta pertimbangan kesamaan perasaan sementara aleg laki-laki pada umumnya memahami permasalahan hanya pada level permukaan. Dengan makin banyaknya jumlah aleg perempuan di parlemen maka akan semakin kuat bargaining position dalam mengadvokasi kebijakan yang berperspektif gender maupun kebijakan sinergis lainnya. Hingga kini Undang-Undang tentang kesetaraan dan keadilan gender belum juga rampung padahal proses penyusunannya telah dimulai sejak parlemen periode lalu. Maka jika ada peningkatan jumlah aleg perempuan diharapkan dapat mempercepat penyelesaiannya mengingat  kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan adalah salah satu tujuan dari MDGs

Melalui fungsi anggaran, aleg perempuan tentu akan memperjuangkan anggaran yang berpengaruh terhadap kesejahteraan kaum hawa. Penyusunan anggaran oleh aleg perempuan tidak hanya berdasarkan logika semata namun juga dengan rasa. Anggaran merupakan faktor penting untuk mendorong kesejahteraan. Ketika kesejahteraan dan hak-hak perempuan terjamin maka kualitas generasi yang dilahirkan juga akan terjamin. Jumlah aleg perempuan yang signifikan akan menerbitkan kekuatan dalam memperjuangkan hak kaum perempuan lewat anggaran. Kekuatan perempuan dalam parlemen juga akan memberdayakan lebih banyak lagi perempuan Indonesia sebab perempuan lah yang lebih mengerti cara paling tepat untuk memberdayakan kaumnya.

Fungsi ketiga yang dimiliki oleh aleg ialah fungsi kontrol. Aleg adalah perpanjangan tangan rakyat yang harus berpihak pada rakyat terutama jika terjadi penyelewengan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dalam melaksanakan pengawasan, perempuan lebih memiliki sensitivitas serta ketelitian. Pengawasan memang tidak bisa  hanya mengandalkan kepekaan hati tapi juga ketegasan dan konsistensi. Di samping membuat undang-undang, aleg juga harus mengawasi implementasi undang-undang tersebut. Aleg dapat melakukan revisi terhadap undang-undang jika dibutuhkan. Contohnya yaitu UU No 39 tahun 2004 tentang penempatan TKI yang sedang dalam proses amandemen untuk menyempurnakan aturan tentang perlindungan TKI. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa mayoritas TKI yang menghadapi masalah ialah TKI perempuan maka jelas jika semakin banyak aleg perempuan yang duduk di parlemen, semakin banyak pula aspirasi dan suara hati TKI yang terakomodir

Ketiga fungsi yang dimiliki oleh para aleg perempuan wajib dimaksimalkan agar tidak ada lagi ketertinggalan bagi kaum perempuan. Sudah saatnya perempuan bukan hanya memiliki keterwakilan di parlemen namun juga kekuatan. Kekuatan yang maksimal dan terarah akan mendatangkan solusi bagi berbagai masalah bangsa yang akan sangat bermanfaat bagi rakyat. Jumlah aleg perempuan yang signifikan dan bekerja optimal selama lima tahun dapat mempengaruhi masa depan bangsa ini.

Memilih secara Rasional
Peningkatan jumlah caleg perempuan bukan sebatas formalitas agar partai politik dapat mengikuti Pemilu, juga bukan sebagai penghias untuk meningkatkan elektabilitas. Perempuan layak untuk masuk ke ranah politik karena memiliki kapasitas dan integritas. Kuota 30% untuk caleg perempuan adalah hak yang telah dijamin dalam kebijakan dan patut terpenuhi dengan caleg perempuan yang berkualitas. Kuantitas dan kualitas yang diharapkan tidak dapat terlepas dari dukungan berbagai pihak. Partai Politik sebagai kendaraan para caleg berperan untuk melakukan kaderisasi secara selektif juga mengedukasi untuk meningkatkan kompetensi. Kita sebagai rakyat yang menjunjung tinggi demokrasi akan menjatuhkah pilihannya secara rasional.           
  
Pelajari visi misi para caleg dan partainya, pastikan sudah cukup mengakomodir kepentingan dan kebutuhan kaum perempuan. Sebagai wakil rakyat, sudah seharusnya open-minded dan problem-solver maka pilih caleg dengan program nyata yang menawarkan solusi pintar bukan pintar berjanji. Adalah hal yang penting untuk memeriksa rekam jejak caleg agar kepercayaan yang kita berikan tidak akan sia-sia. Pilih caleg yang bukan hanya peduli tapi juga dapat berkomunikasi dengan baik dengan rakyat banyak, karena sejatinya caleg adalah penyerap suara rakyat dan akan menyuarakannya demi kemajuan bangsa dan negara. Kriteria ideal dapat dimiliki oleh caleg laki-laki maupun perempuan, namun kekuatan perempuan dalam berpolitik layak diperhitungkan. Perempuan memiliki peran strategis untuk pembangunan dan kemajuan bangsa. Suara dan dukungan kita lah yang akan semakin memperkuat perempuan dalam parlemen. Mari memilih secara rasional pada tanggal 9 April 2014. 

Referensi:
1. Bincang Pagi Metro TV, Perempuan dan Parlemen: Antara Budaya dan Realitas Politik tayang Sabtu, 5 April 2014.
2. Jumlah Penduduk Perbandingan Laki-laki & Perempuan di masing-masing Negara,  http://statistik.ptkpt.net diakses 5 April 2014.
3. Data SDKI 2012, angka kematian ibu melonjak, http://nasional.sindonews.com, diakses 6 April 2014.
4. Pembangunan Manusia berbasis Gender 2013: Pencapaian Pembangunan Gender, www.menegpp.go.id, diakses 7 April 2014.
 

TULISAN INI DIIKUTSERTAKAN DALAM LOMBA BLOG TENTANG CALEG PEREMPUAN

2014/03/19

Togean: Informasi Transportasi dan Akomodasi



Ada yang masih menganggap kalau Togean itu terlalu jauh, sulit dijangkau dan belum populer sehingga transportasi & akomodasinya belum memadai. Sekalipun menempuh perjalanan dengan jarak yang jauh tapi bisa jadi tidak terasa lho, tergantung bagaimana si pejalan menikmati perjalanannya. Kalau tentang transportasi & akomodasi kembali ke pilihan gaya traveling masing-masing sih. Dengan mengumpulkan banyak informasi tentang suatu  tempat maka semakin banyak juga pilihan transportasi & akomodasi bagi kita. 
  
Togean bisa diakses dengan 4 rute penerbangan

1. Flight menuju Gorontalo. Kemudian naik ferry dari pelabuhan Gorontalo menuju Wakai. Lama perjalanan sekitar 12 jam. Ferry dari Gorontalo hanya berangkat pada hari Selasa & Jumat.

2. Flight menuju Poso (Flight menuju Poso transit di Makassar terlebih dahulu) Kemudian dilanjutkan perjalanan darat selama 5 jam menuju Ampana dengan menggunakan mobil travel. Kemudian menyeberang dari pelabuhan Ampana.

3.  Flight menuju Luwuk (biasanya dari Surabaya atau Makassar). Perjalanan dilanjutkan via darat menuju Ampana dengan menggunakan travel. Lama perjalanan sekitar 5 jam dan harus menempuh perjalanan lagi dengan kapal dari pelabuhan Ampana.

4. Flight menuju Palu. Jarak Palu-Ampana sekitar 380 km maka lama perjalanan sekitar 10 jam via darat ditambah perjalanan via kapal dari pelabuhan Ampana.
  
Jadwal Kapal kayu dan Kapal Ferry dari dan menuju Togean

PUBLIC BOATS & FERRY SCHEDULE to and from TOGEAN ISLANDS

Day Boat Destination Dep Arv
SUNDAY KM PUSPITA SARI and KM LUMBA-LUMBA MALENGE-KATUPAT 06:00 07:00
KATUPAT-WAKAI 07:00 08:00
WAKAI-AMPANA 10:00 15:00
KM TUNA TOMINI AMPANA-WAKAI 10:00 15:00
WAKAI-AMPANA 16:00 21:00
KM FATHUR STAR AMPANA-BOMBA 09:00 12:00
MONDAY KM PUSPITA SARI AMPANA-WAKAI 10:00 15:00
WAKAI-KATUPAT 16:00 17:00
KATUPAT-MALENGE 18:00 19:00
KM TUNA TOMINI AMPANA-WAKAI 10:00 15:00
WAKAI-GORONTALO 16:00 06:00
KM FATHUR STAR BOMBA-AMPANA 09:00 12:00
TUESDAY KM LUMBA-LUMBA AMPANA-WAKAI 10:00 15:00
WAKAI-KATUPAT 16:00 17:00
KATUPAT-MALENGE 18:00 19:00
KM TUNA TOMINI GORONTALO-WAKAI 17:00 06:00
KM PUSPITA SARI MALENGE-KATUPAT 06:00 07:00
KATUPAT-WAKAI 07:00 08:00
WAKAI-AMPANA 10:00 15:00
KM FATHUR STAR AMPANA-BOMBA 09:00 12:00
WEDNESDAY KM PUSPITA SARI AMPANA-WAKAI 10:00 15:00
WAKAI-KATUPAT 16:00 17:00
KATUPAT-MALENGE 18:00 19:00
KM TUNA TOMINI WAKAI-AMPANA 07:00 12:00
THURSDAY KM PUSPITA SARI and KM LUMBA-LUMBA MALENGE-KATUPAT 06:00 07:00
KATUPAT-WAKAI 07:00 08:00
WAKAI-AMPANA 10:00 15:00
KM FATHUR STAR BOMBA-AMPANA 09:00 12:00
KM TUNA TOMINI AMPANA-WAKAI 10:00 15:00
WAKAI-GORONTALO 16:00 06:00
FRIDAY KM TUNA TOMINI GORONTALO-WAKAI 17:00 06:00
KM FATHUR STAR AMPANA-BOMBA 09:00 12:00
SATURDAY KM PUSPITA SARI and KM LUMBA-LUMBA AMPANA-WAKAI 10:00 15:00
WAKAI-KATUPAT 16:00 17:00
KATUPAT-MALENGE 18:00 19:00
KM FATHUR STAR BOMBA-AMPANA 09:00 12:00
KM TUNA TOMINI WAKAI-AMPANA 07:00 12:00
updated September 2013

2014/02/27

tentang Pulang



Hei, Pulang! Kamu bagai cinta lama saya yang hilang. Saya mencari-cari maknamu wahai Pulang! Melewati kebingungan, menapaki keraguan dan ternyata butuh seperempat abad bagi saya untuk tahu apa itu Pulang.

Pulang disaat saya duduk di bangku sekolah dasar berarti bebas dari seragam lalu bebas bermain dengan teman-teman. Ketika itu saya sangat amat menghargaimu, wahai Pulang karena kamu adalah hadiah dari Ibu Guru. "Boleh pulang duluan" begitu kata Ibu Guru jika murid-muridnya bisa menjawab pertanyaan.

Menginjak remaja, Pulang menjadi titah utama dari yang saya muliakan, kedua orang tua tersayang. Apalagi yang lebih dikhawatirkan oleh mereka selain anak gadisnya yang baru menginjak remaja terlambat pulang. Maaf Pulang, di masa-masa itu kamu jadi kewajiban yang membosankan.

Lalu Pulang membuat perubahan. Pulang keluar dari orbit seorang gadis remaja yang rumahnya mendadak pindah ke propinsi tetangga. Saya pun menarik Pulang untuk kembali ke tempat yang baru. Memaksa Pulang agar menetap dengan saya yang menumpang di rumah kerabat terdekat di Ibukota. Saya kasihan dengan Pulang yang kebingungan dengan rutinitas multitujuan. Saya tahu bahwa Pulang kelelahan dengan perjalanan antarkota antarpropinsi setiap akhir minggu. Dua tahun pertama berlalu, Pulang belajar dan menjadi dewasa. Saya pun bersyukur, Pulang kini lebih kaya arti. 

Euphoria menjadi mahasiswa ternyata menjauhkan saya dari Pulang. Ini bukan karena stigma bahwa mahasiswa KuPu-KuPu (Kuliah Pulang Kuliah Pulang) adalah mahasiswa yang cupu* (kurang pergaulan) sehingga saya tidak mau tergabung ke dalamnya. Kepanitiaan-ini, organisasi-itu berhasil membuat saya lupa waktu dan juga lupa dengan Pulang. Saya larut dalam kesibukan baru dan keluarga pun mendukung, Kamu harus cepat pulang jangan terlambat sampai di rumah" seperti yang dinyanyikan Slank, hampir tidak pernah dinyanyikan oleh keluarga saya pada masa-masa ini.

Tahun ketiga menjadi seorang mahasiswa saya mencoba untuk masuk ke dalam kelompok mahasiswa yang go international. Walaupun misi saya sama seperti Agnes Monica tapi skill jelas beda. Saya sadar sepenuhnya jika saya mengandalkan faktor keberuntungan diantara sederet faktor lainnya. Beruntung, keberuntungan itu menghampiri saya dalam bentuk kesempatan untuk mengikuti Asian Energy Summit di National University of Singapore. 

Sebagai pemodal tunggal dalam usaha nekad ini, tentu pada awalnya saya sempat mengalami kebimbangan. "Bisa pergi tapi nanti bisa pulang gak ya?" versus "Belum pergi aja kok udah mikirin pulang sih" sering berdebat di dalam pikiran saya. Saya bersyukur perjalanan saya ke Singapore bisa dikatakan mulus dan justru menjadi stimulus. Berikutnya saya semakin sering menantang diri saya untuk memulai travel ke banyak tempat dan tentu kemenangan selalu ada di pihak "Belum pergi aja kok udah mikirin pulang sih". Ya, hubungan saya dengan Pulang semakin menjauh. Ketika itu, saya mulai hobi travel ling. Saya jarang rindu Pulang.

Kalian pasti tahu kan tentang fase pasang surut yang dialami oleh air laut, begitu juga yang terjadi dalam hubungan saya dengan Pulang. Saya masih menganggap Pulang hanyalah sebagai sebuah formalitas bahkan sampai saya mendapat gelar akademik pertama saya. Kebiasaan jarang "mikirin Pulang" kemudian menjadi sponsor pendukung dalam salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya. Tahun 2012, saya mengambil pilihan untuk hidup mandiri di pulau seberang. Atas nama penempatan oleh perusahaan, jiwa petualang ini tersalurkan. Namun ternyata ada hal yang kurang saya persiapkan. Saya tahu saya akan berpisah dengan Pulang dalam waktu yang panjang tapi saya belum pernah tahu bagaimana rasanya. Perjalanan-perjalanan saya selama ini hanya membuat Pulang menunggu dalam hitungan minggu maka Pulang sangat saya rindukan di beberapa bulan pertama saya memulai hidup di kota Palu, Sulawesi Tengah. Kala itu, Pulang kembali menjadi pujaan, Pulang terkena gelombang pasang. Saya sangat menginginkan Pulang.

Seperti seorang pecinta yang ingin dianggap istimewa oleh yang dicintainya, saya pun ingin membawa hal yang spesial ketika nanti bertemu Pulang. Saya ingin menyiapkan setumpuk cerita tentang keindahan Sulawesi Tengah serta segudang pengalaman berkesan tentang pekerjaan tak lupa juga perkembangan diri secara materi dan non-materi. Tentunya semua harus sempurna. Dalam rangka mengejar kesempurnaan, saya sampai merelakan momen hari raya untuk belum bertemu Pulang. Pengorbanan ini pun diganjar dengan sebuah gelar baru yang diberikan oleh beberapa teman. Saya resmi menyandang gelar Mbak Toyib walau baru satu kali bulan puasa dan satu kali Lebaran.

Waktu berlalu, saya pun sampai pada fase kebingungan dan justru menjauhi Pulang. Makassar, ya, itulah yang telah merebut hati saya. Ini bukan karena hampir setiap bulan saya bertandang ke Makassar untuk urusan pekerjaan, bukan pula karena domisili seseorang yang berstatus pacar tetapi ada sesuatu yang membuat saya terlena dengan Makassar. Sesuatu yang lebih abstrak dari pantai Losari, Benteng Fort Rotterdam, Warung Kopi, Coto, ataupun Konro Bakar. Ah entah apa itu, yang jelas saat itu arti Pulang jadi berlipat ganda.

Sejenak saya melupakan dulu Pulang karena berbagai pertemuan dan perjalanan saya yang begitu mengasyikkan. Pertemuan saya dengan teman-teman bawah laut yang begitu cantik di Pantai Tanjung Karang yang berhasil menarik saya untuk ikut aksi transplantasi karang serta mengadopsi karang. Pertemuan saya dengan penduduk Kampung Bajo di Kepulauan Togean yang mengajarkan arti kebahagiaan dalam kesederhanaan. Pertemuan saya dengan masyarakat berbeda agama yang hidup rukun di daerah bekas konflik di Poso. Beberapa perjalanan saya di Sulawesi Tengah memang sangat mengasyikkan tetapi banyak juga yang menegangkan dan mengingatkan saya tentang Pulang. Seperti perjalanan tengah malam saya di daerah Parigi dimana saya yang ketika itu tidur di bangku tengah terbangun kaget dengan badan yang penuh serpihan kecil kaca karena kaca depan mobil yang saya tumpangi dilempar batu hingga retak. Kemudian, perjalanan saya yang harus tertunda karena ban mobil rental yang kempes di tengah hutan menuju kota Ampana pada pukul 03.00 pagi. Mungkin berhenti sebentar karena ada razia oleh Polisi terdengar biasa saja tapi kalau kejadiannya di kota Poso pada jam 23.00 maka akan beda sensasinya. Sekedar lewat kota Poso untuk menuju kota lain pun pernah dihiasi oleh berita bom berdaya ledak kecil yang meledak di suatu kampung. Semuanya membuatku berpikir tentang Pulang.

Di tengah kebingungan akan Pulang, saya bertemu dengan sekelompok orang yang sangat mendambakan Pulang. Kami dipersatukan oleh kebijakan penempatan perusahaan. Kami sama-sama bertahan, belajar dan menikmati masa perantauan. Dari mereka, saya belajar arti Pulang yakni kembali ke pulau kelahiran dimana kultur mereka mudah berbaur. Mayoritas dari mereka berpikir bahwa untuk bertemu sanak keluarga, perjalanan 15 jam di atas kereta itu lebih baik daripada 2 jam penerbangan dari pulau seberang. Bagi mereka lebih berat membawa satu kultur mereka ke pulau seberang daripada menerima dan berbaur dengan ratusan macam kultur di pulau kelahiran.

Kemudian magnet itu datang. Magnet yang mencoba menarik saya pulang, yang berbentuk: Berita tentang kesuksesan teman-teman yang berjuang di kota besar, Iming-iming banjir peluang di ibukota, Fakta tentang ketertinggalan saya akan hal-hal terkini dan yang paling kuat daya tariknya yaitu kekhawatiran orang tua. Dalam waktu yang singkat saya memutuskan untuk segera mengejar Pulang.

Akhirnya, saya bertemu Pulang.. Sambutan hangat berdatangan dari keluarga dan teman-teman ketika nama saya disandingkan dengan Pulang. Saya butuh Pulang agar saya tenang adalah jawaban atas pertanyaan Kenapa ingin Pulang? yang saya ulangi berkali-kali. Berkali-kali kepada mereka yang peduli. Berkali-kali sambil saya renungi. Berkali-kali hingga saya tersadar bahwa Pulang punya arti tersendiri.

Dua bulan pertama masih terasa wajar jika saya rindu perantauan serta rindu Makassar. Dua bulan berikutnya saya menangis tersedu-sedu, juga masih karena rindu. Ini kali pertama saya mengalami hal yang lebih dahsyat dari rindu. Raga saya nyaman berada dalam dekapan hangat rumah tapi pikiran saya melayang-layang ke pulau seberang. Lalu, saya bertanya berkali-kali kepada diri sendiri: "Bukankah ini Pulang yang saya nanti-nantikan?" Jika ini sudah Pulang, lalu kenapa saya belum tenang?

Saya memang belum tenang karena seperti ada yang hilang dan rasanya seperti belum Pulang. Pulang ternyata telah mencapai makna yang dalam dan setelah sekian lama barulah saya paham. Makna Pulang bukan hanya tentang perpindahan tempat, bukan cuma kembali ke tempat kelahiran, lebih dari sekedar bertemu dengan orang-orang yang kita sayang. Pulang adalah tentang kembali ke tempat dimana hati kita terasa nyaman, jiwa dan pikiran kita tenang. Saya telah meninggalkan hati saya di beberapa tempat dan kesana lah saya ingin pulang, ke tempat-tempat yang menghidupkan kenangan, yang membuat hati ini nyaman, jiwa dan pikiran pun tenang.



2013/12/03

FRIENDSHIP

"Berteman dengan siapa saja, baik dengan semua orang tapi semakin bertambah umur pertemanan yang berkualitas itu perlu" -quotes by a 90's Indonesian famous singer

2011/06/25

POSTCROSSING (wish me luck)

Di era digital seperti ini, Kartu Pos (Post Card) jadi sesuatu yang so-yesterday, namun ternyata masih ada sekelompok orang yang berasal dari berbagai negara yang justru antusias untuk bertukar postcard. Kesamaan minat untuk mengumpulkan dan bertukar post card ini diakomodir oleh sebuah website: www.postcrossing.com. Aturan mainnya gampang, setelah mendaftar setiap member akan mendapat alamat tujuan untuk dikirim postcard dan setelah postcard sampai maka member tersebut akan mendapat postcard sejumlah yang ia kirim. Setiap member dibebaskan untuk menulis preferensi postcardnya di profile masing-masing.

Terhitung bulan lalu saya terdaftar sebagai postcrossing atau bisa juga disebut postcrosser. Alasan saya bergabung simply karena saya suka kejutan! Hahaha...iya serius deh dapet selembar postcard dari luar negeri bahkan dari negara yang kita belum tau tuh kaya dapet hadiah. Sampai hari ini saya masih nunggu hadiah (baca: postcard) pertama saya sih :) tapi postcrad yang saya kirim udah sebulan lebih melanglang buana menuju Rusia. Mudah-mudahan postcard pertama saya mendarat dengan selamat (perangkonya cuma 7000 by the way). Wish me luck ya!

2009/08/29

Kisah dibalik Baju Basah part 1



Pernah ngebawa baju kotor bekas basah-basahan selama 3 hari? Gw pernah. Terus kalo ditanya apa istimewanya?



Yang pasti tas tambah berat sih :) 

Inilah kisah dibalik baju basah...

Ada yang bilang kalo liburan yang terlalu direncanakan malah biasanya gak jadi kenyataan, tapi kalo spontan malah kesampaian.Begitulah liburan gw kali ini, berawal dari undangan yang datangnya super tiba-tiba.dari sahabat semasa remaja. Gw juga nggak inget kapan terakhir jalan-jalan bareng sahabat ini saking sibuknya kita bertiga. Oiya sahabat gw ada 2 orang, jadi dulu kita tergabung dalam trio ABG cute gitu. Singkat cerita, gw mengiyakan ajakan sahabat gw untuk liburan di akhir minggu ini dan tujuannya ke Carita!

Di hari Jumat siang yang cerah kami pun berangkat menuju Carita. Tim jalan-jalan kali ini ada 6 orang. Sayang, sahabat gw yang ikut cuma satu orang tapi dia ngajak pacarnya dan pacarnya ini juga ngajak 2 sahabatnya, lalu sepupunya sahabat gw diajak juga. Nah, bener kan udah 6 orang? Kalo belum coba itung lagi deh.

Seperti pemiliknya, maka bawaan gw juga heboh. Takut baju-baju gw kesapu ombak jadi gw bawa banyak baju pantai walaupun cuma nginep 2 malam dan hari Minggu udah pulang. Setelah 5 jam perjalanan, maka sampailah kami di Kondominium Lippo Carita. Semua kamar disini menghadap ke laut, kamar kami di lantai bawah terdiri dari 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang keluarga, meja makan dan dapur. Sedangkan kamar di lantai atas (yang berhasil saya intip) bertype studio seperti kamar di kondominium pada umumnya. Mmm...bisa dibilang kalau type kamar di lantai bawah adalah type keluarga karena luas dan kalaupun disewain harganya lebih mahal dari kamar yang di atas. Bukannya gw mau bilang kalau kamar kami mahal, lah wong saya saja cuma numpang hahaa.. Makasih tantenya Daniel :). Kamar-kamar di Kondominium Lippo Carita ini milik perorangan dan ada yang disewakan ada juga yang tidak. Nah kamar kami ini tidak disewakan dan setiap harinya dibersihkan dan dijaga oleh Teh Neneng. Kalau kalian ada yang mau menyewa kamar disini, Teh Neneng bisa bantu nyariin lho.

Penampakan Ruang Keluarga, Dapur dan penampakan2 lainnya

Sebenernya sih lumayan capek karena perjalanan yang berjam-jam dan baiknya cepet tidur biar besok fit tapi karena terprovokasi "Kalo mau tidur mah di rumah aja" maka malam itu jadi panjang. Dimulai dari foto-foto, nonton TV, main kartu, tebak-tebakan, foto-foto lagi..ya maklum anak muda.

Yuhuu! Besok paginya cerah dan pantai Carita makin indah! Pokoknya hari itu judulnya basah. Kita juga mabok lho, maklum anak muda kalo ke pantai nggak afdol kalo gak mabok air kelapa. Di Pantai Carita ini kita juga bisa naik Banana Boat dan Jet Ski. Berhubung kami menjunjung tinggi kekompakan maka kami lebih memilih naik Banana Boat. Kalau Jet Ski kan cuma muat 2 orang aja tuh sedangkan kami ber-6 dan udah sepakat untuk nggak berpisah (padahal karena alasan kantong  juga sih hahaa). Biaya untuk naik Banana Boat Rp 180.000,- maksimal untuk 6 orang dan lamanya sekitar 15-20 menit biasanya sih Mamangnya akan ngejatuhin sampe 3x. 

Keesokan harinya, keluarga dari salah satu sahabat saya datang menyusul. dan kebetulan ada si Teteh PRT yang mau jadi relawan untuk fotoin kami yang kecanduan naik Banana Boat. Padahal kemarin malam kami tidur cepat karena badan kami pegal-pegal akibat terlalu hardcore:
"Ada yang nendang pundak gw" ; "Lo harusnya pegangan sama Banana Boat, bukan pinggang gw"
Menurut Mamang Banana Boat, harusnya badan kita dilepasin aja dan dibiarin terlempar saat Banana Boatnya terbalik, toh nggak akan tenggelam karena pakai pelampung. Posisi duduk juga perlu diperhatikan, jangan kaya sahabat perempuan saya yang kecil duduk di depan sahabat cowo saya yang badannya besar karena pas kelempar gak bisa ditebak, kadang bisa berjauhan kadang tumpuk-tumpukan. Kalo kemarin gw mabok air kelapa, hari ini gw mabok naik Banana Boat. Bayangin sampai 3x dan selalu gw yang paling lama buat naik lagi ke boat dan akhirnya gw dapet predikat Ikan Julung-julung.
muke gw antara puas sama mabok naik Banana Boat

Makasih Teteh yg udah motoin
Setelah puas naik Banana Boat, kami pun membuat kenang-kenangan agar liburan ini tambah berkesan. Gw dan semua sahabat laki-laki gw gaya-gayaan pake tatoo Walaupun seminggu udah hilang tapi at least ada kenang-kenangan. Ini pertama kalinya gw ditatoo dan seinget gw sih gw milih gambar kupu-kupu...lah tapi hasilnya malah kaya capung begitu. ya maklum aja deh tatoo harga 25ribu
Cuma Mamang Tatoonya yg tau itu Tatoo Kupu-Kupu atau Capung

Hari menuju senja, kami pun menuju Jakarta. Namanya perjalanan ke Ibukota nggak bisa diduga-duga dan sering gak sesuai rencana. Harusnya kami sampai jam 21.00 di daerah Jakarta Utara tapi apa daya kami baru sampai jam 22.30. Akhirnya liburan gw extend satu malam lagi di rumah sahabat dengan membawa baju basah. Baju basah yang besok pagi harus ikut gw kuliah. Baju basah yang bikin berat tas gw bertambah. Baju basah yang nantinya punya kisah.